Penelitian BBRP2BKP Memperoleh Pendanaan dari Kemenristekdikti melalui Program Prototipe Teknologi untuk Masyarakat Tahun 2018

Foto: FAO.org

 

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) telah memilih beberapa proposal hasil seleksi program prototipe teknologi untuk masyarakat tahun 2018. Proposal penelitian dari Syamdidi, S.Pi, M.App.SC, salah satu peneliti di Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBRP2BKP), yang berjudul Teknologi Penanganan Ikan di atas Kapal dalam rangka Mengurangi Susut Hasil pada Nelayan Jakarta Utara, dinyatakan lolos dalam seleksi tersebut (http://risbang.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2018/05/surat-pemenang-hibah-dptm-2018.pdf).

Penelitian ini diharapkan dapat menjawab permasalahan utama yang dihadapi oleh nelayan tradisional, yakni tingginya susut hasil perikanan. Susut hasil perikanan adalah keseluruhan nilai kerugian pascapanen hasil perikanan akibat terjadinya kerusakan pada ikan, baik kerusakan fisik, mutu, atau lainnya, yang terjadi mulai dari saat ikan ditangkap sampai ke tangan konsumen.

Susut hasil yang sering dialami oleh pelaku perikanan adalah susut mutu dan fisik. Besaran susut mutu dan fisik dapat dikonversikan ke dalam nilai finansial dan diakumulasikan untuk menggambarkan susut hasil total. Susut fisik (physical loss) merupakan nilai kerugian akibat hilangnya berat ikan (diukur selisih beratnya pada saat ikan ditangkap dan pada waktu dijual) akibat kerusakan fisik atau busuk sehingga dibuang, dimakan binatang, terbuang karena tidak laku, dicuri, jatuh, dan sebagainya. Susut mutu (quality loss) merupakan nilai kerugian akibat terjadinya kerusakan atau kemunduran mutu. Dengan kata lain, susut mutu adalah perbedaan antara nilai ikan jika tidak terjadi kerusakan (mutu terbaik) dengan nilai ikan setelah ikan mengalami kerusakan mutu (mutu rendah) dan dijual dengan harga murah. Susut finansial (financial loss) merupakan konversi susut hasil yang ada (susut fisik dan susut mutu) yang jika diakumulasikan sekaligus mencerminkan nilai susut hasil secara keseluruhan. Keseluruhan nilai kerugian tersebut dikonversikan dalam persen dan merupakan total susut hasil.

Saat ini pemahaman nelayan Indonesia pada umumnya masih berorientasi pada kuantitas jumlah hasil tangkapan, sehingga faktor kualitas atau mutu sering diabaikan. Hasil penelitian Wibowo et al (2015, 2016, 2017a, 2017b, 2017c, 2017d) dan Syamdidi et al (2017) (http://www.fao.org/3/a-i6282e.pdf) menemukan bahwa mutu tangkapan nelayan cukup rendah, hampir 90% hasil tangkapan mendapat stempel mutu jelek yang mengakibatkan ikan sulit dijual. Kalaupun laku, harganya menjadi sangat murah, yang akhirnya berimbas pada pendapatan yang diperoleh oleh nelayan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan nelayan mengenai cara penanganan ikan yang baik serta kurang memadainya fasilitas penanganan ikan di kapal.

Untuk mempertahankan mutu, baik ikan segar, beku, maupun ikan olahan perlu adanya perbaikan cara penanganan mulai saat ikan ditangkap dari laut sampai pada pemasarannya. Penyediaan box/peti berinsulasi yang memenuhi standar untuk menyimpan ikan segar dan penerapan sistem rantai dingin (cold chain system) sangat penting peranannya dalam mempertahankan mutu hasil tangkapan. Maka dengan adanya diseminasi teknologi penanganan ikan di atas kapal yang akan didanai dari Program Prototipe Teknologi untuk Masyarakat ini, diharapkan para nelayan, khususnya nelayan Jakarta Utara, dapat mengadopsi teknologi tersebut untuk mengurangi susut hasil dan meningkatkan standar mutu ikan yang diperoleh.

(AB)

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.