Obat Penghilang Rasa Sakit Dari Keong Laut

Keong laut penghasil ‘bisa’ conotoxins (Sumber: University of Melbourne http://grimwade.biochem.unimelb.edu.au/cone/index1.html)

 

BBRP2BKP, 22 Mei 2018

Dilansir dari laman ABC News (http://www.abc.net.au) 4 April 2018, peneliti dari Australia selangkah lagi dapat mengembangkan obat penghilang rasa sakit dari ‘bisa’ keong laut jenis Conus spp. Conotoxins adalah bisa yang digunakan keong laut Conus spp untuk melumpuhkan dan membunuh mangsanya, misalnya ikan.

Senyawa dari ‘bisa’ keong laut yang disebut sebagai conotoxins diketahui mampu menghilangkan rasa sakit (pain killer). Saat ini bahkan terdapat conotoxin yang telah digunakan secara klinis sebagai obat penghilang rasa sakit yang sangat kuat sehingga seringkali digunakan sebagai pengganti morphine. Akan tetapi dosis penggunaan conotoxin yang tepat, tanpa menimbulkan efek samping masih sulit ditentukan. Masalah lain dari penggunaan conotoxins sebagai obat klinis adalah ketidakmampuannya untuk melewati selaput darah otak (blood-brain barrier), sehingga pemberian obat hanya dapat dilakukan dengan infus. Namun, masalah ini dapat diatasi dengan pengembangan conotoxins yang baru sehingga nantinya pemberian conotoxins dapat dilakukan memalui oral/ mulut.

Penelitian tentang conotoxins telah berlangsung lama, termasuk penelitian dari University of Queensland, the University of Melbourne, the South Australian Health and Medical Research Institute. Kolaborasi penelitian dari tiga universitas di Australia mengklaim mampu membuat conotoxins yang lebih aman. Penggunaan conotoxins diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada obat penghilang rasa sakit berbasis opioid, yaitu penghilang rasa sakit berbasis opium.

Macdonald Christie, Profesor Farmasi dari University of Sydney menerima dana dari National Health and Medical Research Council (NHMRC) untuk melakukan penelitian conotoxins ini. Prof. Christie menemukan indikasi awal bahwa dibandingkan opioids dan cannabinoids, conotoxins ternyata lebih efektif kerjanya. Melalui beberapa mekanisme kerja seperti memblokir sinyal rasa sakit pada sistem syaraf, conotoxins mampu memberikan efek penghilang rasa sakit yang lebih lama. Selain itu, conotoxins juga mempunyai target yang lebih spesifik sehingga menghasilkan efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat sebelumnya.

Pengembangan conotoxins

Secara umum dipercaya bahwa semakin kuat aktivitas conotoxins maka efektivitas kerjanya akan semakin bagus. Tetapi Prof. Christie dan kelompoknya menemukan bahwa beberapa conotoxins yang tidak terlalu kuat aktivitasnya dan tidak menempel pada sistem syaraf target justru lebih aman digunakan. Jenis senyawa ini akan menetralisir sistem syaraf dengan tidak menempel pada target sehingga menimbulkan efek samping yang lebih kecil.

Diperkirakan jenis conotoxins ini dapat digunakan secara klinis kurang dari 10 tahun karena pendanaan untuk clinical trial telah didapatkan, sambung Prof. Christine. Mereka masih menunggu investor untuk mengembangkan produk ini.

Nurrahmi Dewi Fajarningsih, peneliti BBRP2BKP yang pernah terlibat dalam penelitian tentang conotoxin di University of Queensland menambahkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi mempunyai potensi yang besar sebagai pemasok bahan-bahan farmasetikal dan nutraseutikal dari laut. Sayangnya Indonesia masih sangat lemah dalam penelitian berbasis pencarian bahan obat terutama sumber hayati laut. Sebagai peneliti, Fajarningsih berharap pemerintah Indonesia dapat lebih mendukung dunia riset tanah air sehingga pemanfaatan sumber daya hayati kita dapat lebih bernilai tinggi.

Sumber:

Ditulis kembali dan diolah oleh Gintung Patantis dan Nurrahmi Dewi Fajarningsih dari artikel: Sea snail venom could be ‘the holy grail’ in pain therapeutics oleh Max Chalmers and Laura Brierley Newton (http://www.abc.net.au/news/2018-04-04/sea-snail-venom-could-be-the-holy-grail-in-pain-therapeutics/9617670)

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.